Jumat, 26 September 2014

Kain kaffannya aja bersih, bagaimana dgn kondisi mayyitnya?

Alhabib Ali bin Abdurrahman Assegaf bercerita..
Suatu kali datang seorang ustad ke tempat beliau, sang ustad sowan dgn suatu maksud..ada yg ingin beliau tanyakan pada habib ali.
"Yaa habiib, ada kejadian aneh di tempat ana baru2 ini.." sang ustad mengawali ceritanya. Di musholla tempat ana mengajar di daerah parung, warga sekitarnya itu mau membangun dan memperluas mushollanya dan mau menjadikannya masjid. Karena keterbatasan dana, akhirnya warga memutuskan utk meminta sumbangan kpda para pengguna jalan yg lewat di depan musholla trsebut.

Singkat cerita, suatu hari datang seseorg menemui panitia pembangunan musholla trsbut dan dia bilang akan menanggung semua biaya pembangunannya..setelah deal, trnyta di ketahui bahwa di area pekarangan musholla trsebut trdapat 3 buah makam. Sang pemilik modal bilang, dirinya tdk mau menggusur makam trsbut..setelah diadakan perundingan akhirnya sang pemodal dan panitia sepakat untuk menemui ahli waris dari ketiga makam itu untuk meminta izin memindahkan makam keluarganya. Alhamdulillah keluarga pemilik makam menyetujuinya dan ridho ketiga makam itu di pindah..

Tibalah saat pemindahan makam di laksanakan, makam pertama di gali..makam itu makam guru ngaji di wilayah situ..guru ngaji biasa, yg hanya mengajarkan anak2 kecil utk bisa membaca Alqur'an. Shohibul maqom di kuburkan 50 tahun yg lalu kata keluarganya. Masya Allah..ketika di gali makam itu, kain kafan dari si guru ngaji itupun masih bersih..bgmna dgn kondisi si mayyitnya? Tentunya jg masih dlm kondisi baik. Gemparlah seluruh warga yg hadir di waktu itu, semua takjub dgn keadaan mayyit si guru ngaji itu. Allah lagi nunjukin kasih sayangNya pada warga parung.

Selesai lah proses pengangkatan jenazah yg pertama. Sang guru ngaji yg Allah jaga, sampai2 binatang2 yg ada di dlm tanah pun tdk bisa menyentuh mayyit org sholeh itu. Di lanjutkan pengangkatan mayyit dr makam yg kedua, yg tidak lain makam ini adlh makam istri dr sang guru ngaji itu..setelah di gali, masya Allah rupanya kondisi mayyit dr makam ini pun sama seperti yg pertama. Kain kaffan nya aja masih bersih, dan kondisi mayyitnya masih baik.

Nah, sampai disini si ustad berhenti bercerita dan bertanya ke habib Ali.
"Kenapa bisa sprti ini bib? Kalau makam yg pertama mgkin krna jasa dan amal beliau (sang guru ngaji) mengajarkan Alqur'an..makanya Allah jaga mayyitnya. Nah kalo sang istri hanyalah seorg istri biasa, beliau tdk mengajar..knpa bisa dpt kemuliaan yg luar biasa jg?" Tanya sang ustad kpda habib Ali.
"Seorang yg membantu dgn ikhlas agama nya Allah, wlwpun dgn hal2 yg terbilang kecil..dia khidmat pada org yg berjuang di agamanya Allah, maka dia pun mendapat ganjaran yg sama dgn org yg berjuang itu. Dalam hal ini, mgkin selain karena baktinya sang istri pada si suami. Sang istri juga ikhlas ngebantu dakwah suaminya..dia menyiapkan segala keperluan sang suami dlm dakwahnya, menyiapkan keperluan anak2 didik suaminya..dr menyiapkan lekar dan alqur'an utk mereka atau lainnya. Maka dia pun mendapatkan ganjaran yg sama dgn apa yg di dapat suaminya" jelas habib Ali menjawab pertanyaan si ustad.
(Sebenernya ada dalil yg disampaikan habib Ali dr hadits Rasulullah saw, tp saya gak inget dalilnya)..heehehe. :-)

"Selesai dipindahin makam yg kedua, proses pemindahan makam pun di lanjutkan ke makam yg ketiga." Sang ustad melanjutkan ceritanya. Di makam yg ketiga ini trnyata Allah SWT belum berhenti menunjukkan kuasanya pada warga parung dan sekitarnya. Kondisi mayyit ketiga ini sama seperti yg pertama dan kedua. Kain kaffannya aja masih bersih, gimana dgn kondisi mayyit nya? Allah jaga mayyit dr ketiga makam ini, sampai binatang dlm tanah pun tdk menyentuhnya. Mayyit di makam yg ketiga ini adalah pembantu dr sang guru ngaji dan istrinya. Beliau ini dulunya adalah jawara di kampungnya yg kemudian taubat dan berkhidmat pada sang guru ngaji.
Masya Allah trnyta besar ganjaran yg Allah berilan pada mereka. Allah muliakan org yg memuliakan alqur'an, Allah pun beri ganjaran yg sama pada orang2 yg berkhidmat, membantu orang yg berjuang di jalan Allah.

Hal ini sesuai dgn sabda sang Nabiy, "Sebaik-baik kalian adalah yg belajar Alqur'an dan mengajarkannya"..dan ditambah dgn hadits, "Manusia yg paling baik adalah yg bermanfaat bagi sesamanya".

Semoga Allah pun muliakan kita utk bisa melakukan hal2 yg sama dgn org2 yg di muliakan Allah. Semoga hidayah dan taufiq utk melakukan hal2 yg baik, walaupun hal2 yg kecil..senantiasa sllu Allah curahkan pada kita semua. Aamiin..

Alafu..mohon maaf kalo ada yg salah..mudah2an ada manfaatnya.

(Dikutip dr tausiyah habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, di acara Haul Habib Munzir di Ponpes Darul Rasul, Nanggewer, Bogor).

Kamis, 25 September 2014

Aku lemah bukan karena mu..
Aku lemah karena diriku sendiri..
Karena keimananku..keimananku tidak lah kokoh sprti yg beberapa orang kira tentang aku. Aku hanyalah tumpukan daging yg penuh dosa..
Kamu hanyalah perantara dari Tuhanku..perantara-Nya untuk mengujiku.
Iyaa..hanyalah perantara, hanyalah cara dari Tuhanku untuk menunjukkan kasih sayang-Nya padaku..
Semoga di akhir nanti, aku dapati diriku kuat dan Tuhanku ridho padaku.

Rabu, 24 September 2014

Aku Pamit...


Aku Pamit Wahai Guru Nan Lembut dan Damai

- - - Sang Guru tersenyum, terdiam, lalu berbisik lembut, "Apa yang kau risaukan?" Aku berkata, "Musuh semakin banyak, saya risau mereka akan merusak perjuangan kita, saya tidak mau memerangi mereka, saya selalu memaafkan mereka sebelum mereka meminta maaf, namun saya risau pula karena mereka terus ada." Sang Guru berkata lirih, "Kita kelompok damai yang tidak memusuhi, semoga Allah menenangkan kita dari gangguan musuh." Aku berkata lirih, "Apa yg harus saya lakukan?" Maka guru berbisik lembut, "Kita adalah kelompok damai. Kita adalah kelompok yang selalu berdoa. Kita berusaha dengan naungan doa. Kita bekerja dengan naungan doa. Kita beraktifitas dengan naungan doa. Doa kepada Allah, doa kepada Allah, doa kepada Allah." Aku menunduk... mulai kurasa bahwa aku telah banyak menyita waktu guru... aku berbisik di sela-sela tangis, "Saya pamit." Guru menjawab, "Ku titipkan engkau pada Allah." - - -

Dari www.majelisrasulullah.org
Ditulis oleh: Habib Munzir al Musawa

Minggu, 14 June 2009
Siang hari, Sabtu 13 Juni 2009, detik-detik pamitanku pada Guru. Aku bersimpuh di hadapan guru, samudera ilmu nan luas, guru yang sangat lembut dan berwibawa, seakan-akan langit dan bumi sirna ketika aku memandang kelembutan dan kedamaian di wajahnya. Berkata Anas bin Malik ra, "Belum pernah kami melihat pemandangan yg lebih menakjubkan dari wajah sang Nabi saw." (Shahih Bukhari)
Rasanya, saya juga ingin merasakan sebagian dari apapun kegundahan ataupun ide-ide terbaru yang Habib Munzir miliki (sebagai bukti pertalian antara Habib dengan jamaah MR sekalian dan saya pribadi). Saya ingin membantu da'wahnya Sayyidina Muhammad SAW dengan kemampuan yang saya miliki.
Itu adalah di masa Anas bin Malik ra, namun di masaku aku menemukan cahaya keindahan itu, sebagaimana sabda Nabiku saw, "Maukah kalian kuberitahu siapakah yang mulia diantara kalian? Mereka adalah yang jika dipandang wajahnya membuatmu ingat pada Allah." (HR Bukhari pada Adabul Mufrad).

Kota Tarim, Hadramaut, Yaman adalah kota kedamaian, cuaca panas terik yg bisa mencapai 45 derajat celcius. Namun terik matahari itu sirna dan sejuk dengan keberadaan para ulama shalihin berwajah sejuk dan damai. Mereka lepas dari segala racun keduniawian, mereka lepas dari segala ketamakan, mereka lepas dari sifat iri dengki, sombong dan segala penyakit hati yg hina, mereka selalu membawa kedamaian dimanapun mereka berada, air mata yang selalu mengalir dalam doa dan munajat, telapak tangan yang selalu terangkat kehadirat Yang Maha Suci dan Maha Abadi, membuat tangan-tangan mereka berhak diperebutkan dan diciumi untuk mendapatkan keberkahan ilahiah dari munajat dan doa mereka, selalu berlemah-lembut bahkan pada para pendosa dan hamba yang berlumur kesalahan.

Aku bersimpuh di hadapan guru. Wajahku menunduk dan sangat dekat diahadapannya, air mataku terus mengalir tak kunjung henti jika memandang wajah Guru.
Air mata cinta...
Air mata haru pada kelembutannya...
Air mata semangat bakti padanya dengan jiwa dan raga...
Air mata rindu dan selalu ingin bersamanya...
Air mata penyesalan atas perbuatan yang mengecewakannya.
Kuangkat kepalaku lagi menikmati wajah terindah dalam hidupku...
Wajah yang membuatku ingat pada Allah...
Wajah yang selalu memancarkan cahaya khusyu dan damai...
Wajah yang selalu berusaha menyantuni semua hamba ilahi...
Sang Guru tersenyum lembut, membuatku menunduk dan semakin deras air mataku mengalir haru dan asyik dalam cinta dan bakti padanya.
Seraya berkata lembut, "Bagaimana keadaan jamaah di Indonesia?"
Aku terdiam dan tak mampu menjawab.
Seraya berkata lembut, "Semoga mereka dalam kebaikan dan kedamaian. Semoga semakin banyak yg bertobat dan kembali kepada keluhuran."
Aku menjawab, "Amiin."
Hanya itu yang bisa keluar dari bibirku.
Sang Guru berkata lagi, "Kabarkan padaku!"
Aku menangis tersedu-sedu dan berkata, "Mereka semakin banyak... mereka semakin banyak tuanku... saya risau tuanku..."
Sang Guru tersenyum, terdiam, lalu berbisik lembut, "Apa yang kau risaukan?"
Aku berkata, "Musuh semakin banyak... Saya risau mereka akan merusak perjuangan kita... Saya tidak mau memerangi mereka... saya selalu memaafkan mereka sebelum mereka meminta maaf... namun saya risau pula karena mereka terus ada..."
Sang Guru berkata lirih, "Kita kelompok damai yang tidak memusuhi, semoga Allah menenangkan kita dari gangguan musuh."
Aku menunduk, "Amiiin" bisikku.
Air mata berjatuhan semakin deras.
Wajah indah dan damai itu kembali melantunkan wejangan-wejangan lembut dengan suara lirih dan terkadang berbisik lembut, hingga akhirnya Guru berkata lembut dan pelahan, "Adakah yg masih mengganjal dihatimu?"
Aku menunduk... air mata telah berjatuhan membasahi permadani... aku diam dan tak berani berucap... dan beliau menatapku dengan cermat dan risau... Dahi Guru berkerenyit tanda beliau benar- benar menanti jawabanku. Maka aku berkata lirih, "Mereka dengki pada saya. Saya sedih mengapa mereka dengki pada saya dan kemajuan yang semakin pesat justru semakin memicu hal ini. Maka saya tidak tahu harus bagaimana."
Beliau tersandar dan tersenyum. Beberapa detik tanpa suara, lalu beliau melantunkan ayat-ayat kejadian Nabi Yusuf as yang didengki oleh saudara-saudara kandungnya. Lalu beliau berkata lirih, "Bahkan anak-anak para nabi pun ada yg tidak selamat dari sifat dengki pada saudaranya."
Lalu beliau tersenyum... senyum yang menghibur jiwa yang risau dan resah... Aku tercenung... Lalu beliau menyadarkanku dari lamunanku dengan menghentakkan sebuah siwak ke pangkuanku. Siwak dipukulkan ke pangkuanku, tanda kedamaian dan keakraban yang sangat menyejukkan.
Aku berkata lirih, "Apa yg harus saya lakukan?"
Maka guru berbisik lembut, "Kita adalah kelompok damai. Kita adalah kelompok yang selalu berdoa. Kita berusaha dengan naungan doa. Kita bekerja dengan naungan doa. Kita beraktifitas dengan naungan doa. Doa kepada Allah, doa kepada Allah, doa kepada Allah."
Aku menunduk... mulai kurasa bahwa aku telah banyak menyita waktu guru... aku berbisik di sela sela tangis, "Saya pamit."
Guru menjawab, "Kutitipkan engkau pada Allah."
Aku roboh dalam tangis dan kubenamkan wajahku di pangkuan guru. Aku akan kembali berjuang dalam dakwah. Aku akan berhadapan dengan segala apa-apa yang semoga Allah meringankan segala bebanku.
Beliau menepuk bahuku dengan akrab untuk menyemangatiku. Aku pun bangkit, berdiri mundur tanpa berani membelakangi. Sambil terus menunduk tanpa berani memandang wajah damai itu lagi. Sampai ke pintu barulah kubalikkan tubuhku.

Disaksikan terik matahari dhuhur kutinggalkan kota Tarim, kota kerinduan, kota kedamaian, kota tempat kekasihku dan Guru Muliaku berada, sang pembimbing diriku menju jalan keluhuran, keluhuran dunia dan keluhuran akhirat.
Pesawatku mendarat di Bandara Soekarno Hatta pada Ahad.
Oh Jakarta...
Gemetar dan penuh risau ku langkahkan kaki turun dari pesawat menginjak Bumi Jakarta...
beban...
tanggung jawab...
massa...
kendala...
subhanallah....

Lalu aku membatin, "Wahai nafas-nafasku. Kau adalah ajang bakti cintaku pada guru. Padanyalah ku baktikan jiwa ragaku, yang dengan itulah matahari keridhoan Allah dan Rasul Nya terbit sepanjang waktu bagiku."

Copas dr Habib Munzir Androidapp..

Aku benci Rindu...

Sejenak ku fikirkan apa makna dari kata itu..
Ku terawang terus, ku coba mempertajam kembali daya ingat ku..yang barangkali aku pernah mempelajarinya..tiidak..ternyata memang aku  tidak tau makna dari kata itu.

Yang ku dapati dr "rindu" adalah kesusahan, ketidak berdayaan, kesengasaraan.

Aku benci rindu...
Aku benci krna hanya aku dan Tuhanku yg tau rinduku..
Aku benci..
Aku benci menahan segala rasa rinduku.
Aku benci diriku karena menjadi rindu...

Selasa, 23 September 2014

"kata pengantar"

Muulai..

Assalamu'alaikuum..
Alhamdulillah..puji syukur akhirnya jadi jg ni "blog"..walaupun saya sendiri gak tau tuh apa arti dr kata blog? Hehehe..
Yaah..yg saya tau disini saya bisa bikin2 tulisan, kaga bagus sih emang tp yg penting kan saya seneng..hehee.
Wuuihh..trnyata bnyk jg yah yg udah jadi senior dlm nge-blog ini..pdhl saya aja baru kenalan nih ama si blog. :-) (Emang sayanya gak gaul kaali) heehe..
Sesuai judulnya Muulai..postingan ini ibaratnya mah kata pengantar kalo di buku..hihih..jd blom ada hal yg penting dan emang gak penting (dan emang saya bukan orang penting) yg  akan saya sampaikan disini. #huuu...sorakin!!!
Saya "ikut-ikutan" nge-blog biar kaya orang2 giitu..biar nanti kalo ditanya cewek, ada blognya gak? Saya bisa bilang "aada dong.." heheh..
Gak jg sihh..sbnernya saya ngeblog biar ada tempat aja buat saya nulis..(maklum tulisan tangan saya kan jelek..kalo disini kan tulisan saya bisa bagus..) hehehe..yahh mudah2an aja ada yg suka..truss kita berjodoh dehh.. #gubrakk..
Udah yah kata pengantarnya..yah yahh?? Sayanya jg pusing ni hrs bilang apalagi...sing penting mudah2an blog ini bisa diterima.
Emm...harapan saya sih sederhana, mudah2an dgn adanya blog ini bisa bermanfaat di dunia dan membawa kebaikan buat di akhirat kelak..aamiin..
Salam takdzhim saya utk kalian semua..
Pemilik warungkopiinspirasi...